Mataram, enlmnd.id-Di kalender, mereka berdiri berdampingan
Hari Buruh, Hari Pendidikan,
dua tanggal merah yang katanya perayaan,
tapi merahnya lebih mirip luka
yang belum sempat kering.
Di pabrik-pabrik yang tak pernah tidur,tangan-tangan kasar menulis sejarahtanpa tinta, tanpa nama.
Upah dihitung seperti napas cukup untuk hidup, tidak untuk bermimpi.
Sementara di ruang-ruang kelas,
kapur menari di papan usang,
mengajarkan tentang masa depan
yang katanya cerah, namun jendela retak tak mampu memantulkan harapan.
Guru berbicara tentang cita-cita,
murid mencatat dengan perut kosong, dan di luar sana,
ijazah dipajang seperti tiket lotre
menjanjikan segalanya, menjamin hampir tak ada.
Apa arti pendidikan
jika akhirnya hanya mencetak buruh yang lupa cara bertanya?
Apa arti buruh
jika tak pernah diberi ruang
untuk belajar lebih dari sekadar bertahan?
Dua hari ini saling memandang,
seperti saudara yang terpisah nasib.
yang satu berteriak di jalan,
yang lain berbisik di ruang kelas.
Namun keduanya tahu
masalahnya bukan pada kerja,
bukan pada belajar,
melainkan pada sistem
yang mengajar untuk patuh,
dan mempekerjakan untuk diam.
Maka setiap perayaan
terasa seperti ironi
balon-balon dilepas ke langit,
sementara bumi tetap menahan
keringat dan air mata.
Hari Buruh dan Hari Pendidikan
dua nama, satu cerita,
tentang manusia
yang terus berjuang
agar hidupnya
tidak sekadar jadi angka.
(Dewi/ Bendahara Lmnd Kota Mataram)