Mataram, enlmnd.id - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax kembali menjadi sorotan publik. Pemerintah dan PT Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia serta dinamika geopolitik global. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Di tengah kenaikan tersebut, muncul kekhawatiran terkait dampak lanjutan terhadap pola konsumsi masyarakat. Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite dinilai berpotensi mendorong sebagian pengguna Pertamax beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran.
Fenomena ini dikenal sebagai trading down effect, yakni perpindahan konsumen dari produk yang lebih mahal ke produk yang lebih terjangkau. Jika terjadi secara masif, pergeseran konsumsi tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan tekanan terhadap pasokan Pertalite yang selama ini menjadi bahan bakar pilihan masyarakat berpenghasilan rendah.
Kami menilai bahwa pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan tersebut sejak dini. Menurutnya, ketersediaan Pertalite harus tetap terjaga agar masyarakat kecil tidak menjadi pihak yang paling terdampak.
"Pemerintah harus memastikan ketersediaan Pertalite bagi masyarakat kecil tetap terjamin di tengah kenaikan harga Pertamax. Jangan sampai peralihan pengguna BBM nonsubsidi ke Pertalite memicu kelangkaan maupun kenaikan harga yang justru membebani masyarakat yang menjadi sasaran utama subsidi," kata Andri dalam keterangannya pada Minggu (14/6/2026)
Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan Pertalite akibat peralihan pengguna Pertamax berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan stok dan distribusi yang memadai. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan pasokan dapat memicu kelangkaan di sejumlah wilayah.
Kami mengingatkan bahwa kelangkaan komoditas umumnya berdampak pada meningkatnya nilai ekonomi barang tersebut. Karena itu, pemerintah diminta untuk memastikan rantai distribusi Pertalite berjalan lancar dan tepat sasaran.
"Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan Pertalite tetap aman, distribusinya merata, serta penyalurannya tepat sasaran. Bagi banyak masyarakat kecil, Pertalite bukan sekadar pilihan bahan bakar, tetapi kebutuhan penting yang menunjang aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari," Andri.
Menurutnya, langkah antisipatif dan pengawasan yang ketat perlu dilakukan agar hak masyarakat kecil untuk mendapatkan akses BBM bersubsidi tetap terjamin. Pemerintah juga didorong untuk terus memantau dampak kenaikan harga Pertamax terhadap perubahan perilaku konsumen guna mencegah munculnya gangguan pasokan Pertalite di lapangan.
(Dedi)