Follow Us :

LMND Soroti “Serakahnomics” di Pendidikan, Dorong Sistem yang Lebih Adil dan Membebaskan

27 April 2026 | Berita | 72 kali dibaca

LMND Soroti “Serakahnomics” di Pendidikan, Dorong Sistem yang Lebih Adil dan Membebaskan

Jakarta, enlmnd.id- Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar diskusi publik bertajuk “Bangun Persatuan Nasional Lawan Kaum Serakahnomics di Dunia Pendidikan”. Forum ini mengangkat kritik terhadap praktik yang dinilai mencerminkan “serakahnomics” dalam sektor pendidikan, sekaligus mendorong penguatan peran pendidikan sebagai alat pembebasan dari ketimpangan.


Dalam diskusi tersebut, narasumber M. Rijal menilai bahwa meski alokasi anggaran pendidikan sudah mencapai 20% dari APBN, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, terutama dari sisi sosial. Ia juga menekankan pentingnya sektor pertanian yang kerap terpinggirkan dalam kebijakan pembangunan.

“Pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan justru terjebak dalam praktik yang mengedepankan kepentingan ekonomi semata,” ujar Rijal, Senin (27/4/2026).

Istilah “serakahnomics” digunakan untuk menggambarkan pendekatan ekonomi yang dinilai melampaui sektor bisnis hingga merambah ke birokrasi pemerintahan, termasuk dalam pengelolaan pendidikan. Hal ini dinilai memengaruhi arah kebijakan, kurikulum, hingga orientasi pendidikan yang cenderung lebih menekankan kuantitas dibanding kualitas.

Narasumber lain, Dr. Nanda Khairiyah, M.Si, turut menyoroti lemahnya promosi budaya Indonesia di media, serta kecenderungan liberalisasi dan kapitalisasi di lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta. Sementara itu, Gede Sandra menambahkan bahwa persoalan biaya pendidikan masih menjadi hambatan, khususnya di jenjang perguruan tinggi.

“Di tingkat dasar hingga menengah memang sudah ada kebijakan pendidikan gratis, tetapi di perguruan tinggi biaya masih menjadi hambatan besar bagi banyak masyarakat,” kata Gede Sandra.

Diskusi ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi gagasan bagi mahasiswa untuk mendorong sistem pendidikan yang lebih adil, inklusif, serta berorientasi pada pembangunan manusia secara menyeluruh.



(Dedi)