Follow Us :

‎EN LMND Soroti Langkah BRICS Hapus Dolar dalam Perdagangan Bijih Besi ‎

21 November 2025 | Berita | 949 kali dibaca

‎EN LMND Soroti Langkah BRICS Hapus Dolar dalam Perdagangan Bijih Besi  ‎

Jakarta, enlmnd.id - Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN LMND) menilai keputusan China bersama negara-negara BRICS yang mulai meninggalkan dolar AS dalam perdagangan bijih besi sebagai sinyal kuat menguatnya agenda dedolarisasi di pasar global. Transaksi kini diarahkan menggunakan yuan, yang dianggap sebagai langkah strategis menuju sistem ekonomi multipolar.


Wakil Ketua Umum Luar Negeri EN LMND, Evantio Yudhistira, mengatakan kebijakan tersebut bukan hanya soal teknis pembayaran, tetapi perubahan geopolitik besar yang menantang dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional.


“Ini menunjukkan dunia bergerak menuju tatanan ekonomi yang lebih adil. Negara berkembang diuntungkan karena bisa mengurangi beban konversi dan ketergantungan pada fluktuasi kebijakan moneter Amerika Serikat,” ujar Evantio dalam keterangan tertulis pada Jum'at 21 November 2025.


Meski begitu, ia menilai proses transisi ini tidak mudah. Salah satu kendala utama adalah tarik-menarik kepentingan antara eksportir dan importir soal penggunaan yuan, terutama terkait mekanisme harga, likuiditas, dan stabilitas mata uang.


‎“Negosiasinya masih alot. Tantangannya bukan hanya teknis, tapi juga politis: apakah pelaku perdagangan siap menaruh kepercayaan jangka panjang pada yuan?” kata Evantio.


‎Ia juga menyebut langkah ini berpotensi memicu respons keras dari Amerika Serikat, mulai dari tarif hingga kebijakan proteksionis lain yang bertujuan mempertahankan posisi dolar di perdagangan global.


Evantio mengingatkan bahwa negara-negara BRICS dan mitra dagangnya perlu menyiapkan strategi antisipatif agar dedolarisasi tidak menimbulkan tekanan baru bagi negara yang cadangan devisanya masih didominasi dolar.


Menurutnya, dedolarisasi komoditas strategis seperti bijih besi harus dipandang sebagai bagian dari agenda jangka panjang untuk mendorong demokratisasi sistem ekonomi dunia.


Dedolarisasi bukan sekadar soal metode transaksi. Ini proyek politik untuk memperbaiki ketidakadilan struktural dalam sistem keuangan internasional. Langkah ini progresif dan perlu terus diperkuat agar dunia tidak lagi bergantung pada satu mata uang, tutupnya.



‎(Dimas)