Jakarta, enlmnd.id-Dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) 2026, Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Perempuan dalam Cengkraman Serakahnomics”.
FGD dilaksanakan pada tanggal 12/03/2026, yang diikuti oleh anggota LMND dari berbagai wilayah di Indonesia, mahasiswa, aktivis organisasi kepemudaan, akademisi, serta masyarakat umum.
FGD ini menjadi ruang diskusi kritis untuk membahas bagaimana sistem ekonomi yang sarat oligarki dan praktik serakahnomics yakni sistem yang menempatkan keuntungan individu dan korporasi di atas kepentingan publik telah memperdalam ketimpangan sosial dan memperparah penindasan terhadap perempuan.
Dalam diskusi tersebut, Departemen Perempuan LMND dari berbagai wilayah mulai dari Wilayah NTT, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, DIY, DK Jakarta, Banten, dan Sulawesi Selatan. Mereka memaparkan pengalaman dan analisis mengenai dampak nyata sistem ekonomi yang tidak adil terhadap kehidupan perempuan. Mulai dari kesenjangan upah, eksploitasi kerja, terbatasnya akses terhadap sumber daya ekonomi, hingga minimnya perlindungan sosial, menjadi persoalan yang terus dialami perempuan di berbagai sektor.
Feby Rahmayana Selaku Wakil Ketua Umum Keperempuanan EN-LMND menyampaikan bahwa momentum IWD tidak boleh hanya menjadi peringatan simbolik, melainkan harus menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan gerakan perempuan untuk melawan sistem yang menindas.
“Perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak dalam sistem ekonomi yang eksploitatif. Ketika akses terhadap pekerjaan layak, perlindungan sosial, dan sumber daya ekonomi dibatasi, perempuan dipaksa menghadapi beban ganda sebagai pekerja sekaligus penanggung beban domestik yang tidak diakui secara ekonomi,” ujarnya.
Melalui FGD ini, LMND mendorong lahirnya rekomendasi kebijakan dan strategi aksi kolektif untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan menentang praktik serakahnomics. Diskusi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi yang menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang berpihak pada perempuan, termasuk kesetaraan upah, akses terhadap kepemilikan dan modal, perlindungan sosial, serta partisipasi penuh perempuan dalam pengambilan keputusan.
Pada akhir kegiatan, peserta FGD menyampaikan pernyataan sikap bersama yang menegaskan bahwa sistem ekonomi yang eksploitatif telah memperkuat ketidaksetaraan gender dan menempatkan perempuan dalam posisi yang semakin rentan.
Feby juga menyerukan kepada pemerintah, pembuat kebijakan, serta seluruh elemen masyarakat untuk menolak praktik serakahnomics dan membangun sistem ekonomi yang adil, setara, serta berpihak pada kepentingan rakyat, khususnya perempuan.
Dengan semangat International Women’s Day 2026, Feby menegaskan bahwa perjuangan perempuan bukanlah perjuangan individu atau kelompok tertentu semata, melainkan perjuangan kolektif untuk menghancurkan sistem yang menindas dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Perempuan menuntut keadilan, Serakahnomics harus dilawan...!!! Selamat Memeperingati Internasional Women’s Day
(Dedi)