Follow Us :

‎LMND: Kekerasan Guru di NTT Cerminan Krisis Pendidikan Humanis ‎

26 February 2026 | Berita | 110 kali dibaca

‎LMND: Kekerasan Guru di NTT Cerminan Krisis Pendidikan Humanis ‎

‎Jakarta, enlmnd.id - Kasus kekerasan guru terhadap seorang siswi SMA di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berujung pingsan hanya karena tidak mampu menggambar sel saraf menjadi sorotan publik. Peristiwa tersebut dinilai sebagai tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia yang seharusnya menjadi ruang aman dan tempat tumbuhnya nalar kritis.
‎Dep. Pendidikan dan Anggota EN Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Rijal menegaskan bahwa kejadian ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan bentuk nyata kegagalan sistem dalam memastikan pendidikan berjalan secara humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter.
‎“Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan tempat tumbuhnya nalar kritis, justru berubah menjadi ruang ketakutan. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan atas nama mendidik. Pendidikan bukan arena pelampiasan emosi. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia,” tegas Rijal dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).
‎Menurutnya, untuk memastikan guru dan murid siap menghadapi dunia pendidikan yang lebih maju, termasuk menyongsong visi Indonesia Emas 2045, negara harus mengambil langkah strategis melalui reformasi sistem pembinaan guru. Ia mendorong pelatihan pedagogi berbasis psikologi anak dan remaja, sertifikasi ulang berbasis kompetensi dan etika profesi, serta pendampingan berkala yang tidak hanya bersifat administratif.
‎Rijal menekankan bahwa guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi juga pembentuk karakter. Karena itu, negara wajib memastikan kesejahteraan guru terpenuhi sekaligus menjaga profesionalitasnya agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman (safe space) dengan implementasi tegas kebijakan anti kekerasan.
‎Ia juga menilai bahwa sistem pendidikan Indonesia akan sulit berbicara tentang Artificial Intelligence, digitalisasi, dan inovasi apabila di ruang kelas masih terjadi kekerasan akibat ketidaksabaran pendidik. Pembelajaran sains seperti biologi, termasuk menggambar sel saraf, menurutnya harus berbasis pendekatan kreatif, bukan intimidatif, mengingat tidak semua siswa memiliki kemampuan visual yang sama.
‎“Indonesia Emas bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang kualitas manusia yang beradab. Pendidikan harus menanamkan nilai kemanusiaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Jika kekerasan masih terjadi di ruang kelas, maka kita belum benar-benar bergerak menuju kemajuan,” ujarnya.
‎Atas peristiwa tersebut, LMND menyatakan mengutuk keras segala bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan, baik fisik maupun psikis. LMND juga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan dan adil.
‎Selain itu, LMND meminta Kementerian Pendidikan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pembinaan tenaga pendidik, serta menekankan pentingnya pendidikan berbasis pendekatan pedagogis modern, bukan pendekatan represif.
‎Rijal menegaskan, kejadian ini menjadi alarm keras bahwa reformasi pendidikan belum sepenuhnya menyentuh aspek budaya dan mentalitas dalam ruang kelas. Ia menilai, masa depan Indonesia tidak bisa dibangun dengan ketakutan, melainkan dengan kesadaran, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.




(Dimas)