Follow Us :

Mengenal Gejala dan Dampak Psikologis Child Grooming

15 January 2026 | Berita | 353 kali dibaca

Mengenal Gejala dan Dampak Psikologis Child Grooming


Jakarta, enlmndid-Baru-baru ini Publik dihebohkan dengan terbitnya buku yang berjudul Broken Strings karya Aurelia Moeremans, garis besar dalam buku tersebut membahas tentang Child Grooming yang merupakan motif baru untuk mengeksploitasi anak secara seksual. 

Apa itu Child Grooming?

Child Grooming merupakan proses pendekatan terhadap anak dengan tujuan untuk membujuk agar bersedia untuk melakukan aktivitas seksual. Pelaku biasanya adalah orang dewasa yang akan menggunakan berbagai macam teknik untuk dapat mengontrol dan memanipulasi anak. 

Dalam prosesnya pelaku membutuhkan akses, waktu, dan keterampilan interpersonal. Apabila Child Grooming berhasil dilakukan dengan baik, maka korban secara tidak sadar akan mudah bekerja sama dengan pelaku. 

Semakin mahir keterampilan pelaku dalam memilih dan merayu korban yang rentan, semakin sukses perawatan anak dilakukan. Keterampilan mencakup cara pelaku memilih korban, mengidentifikasi dan mengetahui kebutuhan korban, waktu yang dibutuhkan pelaku untuk mendekati korban, merayu dan mengendalikan korban.

Pelaku akan memanfaatkan kekosongan korban dan masuk lewat apa yang dibutuhkan oleh korban, misalnya anak yang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya karena broken home, anak yang kehilangan sosok orang tua, dan anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tua karena sibuk kerja. Momen inilah pelaku hadir memanfaatkan ruang-ruang untuk manipulasi korban.

Tinjauan Psikologis Child Grooming

Dalam teori psikologis Child Grooming merupakan proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh predator seksual yang selanjutnya disebut sebagai Groomer untuk membangun sebuah hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosiaonal dengan anak atau remaja dengan tujuan akhir untuk melakukan pelecehan seksual dan eksploitasi.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan serangkaian tindakan terencana yang sudah dirancang untuk menurunkan pertahanan korban dan orang di sekitarnya, sehingga pelaku dapat menciptakan kesempatan untuk melakukan kejahatan tanpa disadari oleh korban.

Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui bahwa Child Grooming ini bukan tindakan tunggal melainkan proses bertahap yang dilakukan oleh pelaku. Pelaku akan membangun hubungan dengan korban, dengan berpura-pura menjadi teman atau figur yang dapat dipercaya. Ada beberapa poin penting tentang Child Grooming ini yang perlu diketahui, yaitu :

Pertama; Membangun Kepercayaan, Pelaku akan membangun kepercayaan dengan korban dengan cara menampilkan sisi baiknya untuk dapat mengelabui keluarga korban dan orang-orang dilingkungan sekitarnya. Untuk membangun kepercayaan dengan korban biasanya pelaku akan berteman dengan memanfaatkan minat atau hobi yang sama dan pelaku akan memberikan hadiah atau perhatian yang berlebihan kepada anak. 

Kedua; Manipulasi Emosional, Pelaku akan memanfaatkan kerentanan emosional anak seperti rasa kesepian, harga diri rendah, atau masalah dirumah untuk membuat anak percaya dan merasa lebih aman berada di dekat pelaku, dan anak akan dibuat ketergantungan secara emosional oleh pelaku.

Ketiga; Modus Daring atau Luring, Child Grooming ini dapat dilakukan secara langsung atau via online dengan memanfaatkan media sosial Pelaku menggunakan platform media sosial untuk menghubungi anak dan membangun hubungan daring. sementara apabila berinteraksi melalui game online motivnya agar dapat menyembunyikan identitas pelaku.

Dampak Psikologis dan Upaya Preventif pada Kasus Child Grooming

Dampak dari Child Grooming dapat menyebabkan gangguan secara fisik dan psikologis terhadap anak seperti : 

Pertama; Trauma Psikologis, Anak dapat mengalami trauma yang mendalam, yang dapat menyebabkan masalah kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Kedua; Masalah Perilaku, Anak dapat menunjukkan masalah perilaku seperti agresi, menarik diri dari lingkungan sosial, atau penyalahgunaan zat.

Ketiga; Kesulitan dalam hubungan, kemungkinan anak akan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sehat di masa depan.

Keempat; Gangguan Identitas, Anak mungkin mengalami kebingungan tentang identitas seksual mereka dan merasa malu atau bersalah tentang apa yang terjadi.

Upaya Pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin agar anak tidak terus menerus menjadi korban Child Grooming. Upaya pencegahan harus dilakukan semua pihak dan membutuhkan kerja sama yang baik mulai dari pihak orang tua, pemerintah, sekolah, dan seluruh masyarakat, ini bisa dimulai dengan :

Pertama; Edukasi, proses edukasi harus dimulai dari lingkungan pendidikan lewat kurikulum tentang seksualitas, kita tidak boleh lagi tabu bicara dan memberikan pemahaman tentang seksualitas terhadap anak, sebab ketabuhan inilah yang menjadi akar pelecehan dan eksploitasi seksual. Edukasi Seksual ini bisa dilakukan dengan memberi pemahaman kepada anak tentang batasan pribadi, sentuhan yang aman dan tidak aman, dan pentingnya berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya jika mereka merasa tidak nyaman. 

Kedua; Komunikasi Terbuka, Komunikasi terbuka ini sangat penting untuk diterapkan di masyarkat untuk menciptakan lingkungan yang dimana anak akan merasa nyaman untuk berbicara dengan orang tua atau wali terkait apapun yang mereka rasakan dan apapun yang sudah terjadi pada hidupnya.

Ketiga; Pemantauan aktivitas online anak, Orang tua atau wali harus membatasi dan mengawasi penggunaan internet dan media sosial anak dan harus mengetahui dengan siapa anak berinteraksi di media sosial.

Keempat; Bangun Kepercayaan diri anak, Kepercayaan diri anak harus dibentuk dan dibangun sejak dini, Orang tua dan masyarakat umum berhak untuk membantu anak membangun harga diri dan kepercayaan diri yang sehat, sehingga anak tidak mudah termanipulasi oleh orang lain.

Kelima; Kenali Lingkungan Anak, perlunya orang tua untuk mengenali lingkungan anak dengan mengetahui teman-teman anak, dan orang dewasa lain yang berinteraksi dengan anak.



Feby Rahmayana, Penulis merupakan Wakil Ketua Umum Keperempuanan EN-LMND